الخميس، 20 يونيو 2013

الثلاثاء، 12 مارس 2013

KATAGORI GURU PENDIDIK (KGP)



Katagori Guru Pendidik (KGP)

Profesi guru merupakan pekerjaan yang didambakan oleh sebagian orang, karena kalau kita mendengar kata guru, berarti mengandung makna positif, makna penghormatan dan makna orang yang mempunyai nilai manfaat.
Definisi  guru adalah menurut para ahli, Secara etimologi (asal-usul kata), guru berasal dari bahasa India yang artinya “orang yang mengajarkan tentang kelepasan dan kesengsaraan” (Shamsudin, Republika, 25 Nopember 1997).

dalam Surat Edaran (SE) Mendikbud dan Kepala BAKN No. 57686)/MPK/1989 menyatakan bahwa “guru adalah pegawai negeri sipil (PNS) yang diberi tugas, wewenang dan tanggungjawab oleh pejabat yang berwenang untuk melaksanakan pendidikan di sekolah”. Sehingga pengertian pendidikan tersebut pada akhirnya menyangkut semua aspek kecerdasan.

Guru merupakan pendidik professional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini, jalur pendidikan formal, pendidikan dasar dan pendidikan menengah (UU tentang Guru dan Dosen, Bab I Pasal 1 ayat 1). Dari pengertian di atas jelas bahwa guru itu memiliki peranan yang strategis dan merupakan kunci keberhasilan untuk mencapai tujuan kelembagaan sekolah, karena guru adalah pengelola KBM bagi para siswanya. Kegiatan belajar mengajar akan efektif apabila tersedia guru yang sesuai dengan kebutuhan sekolah baik jumlah, kualifikasi maupun bidang keahliannya.

Mengambil dari hukum agama islam, bahwa islam mempunyai vonis hukum diantaranya wajib, sunnah, mubah, makruh dan haram. Pengambilan istilah vonis hukum Islam hanyalah untuk memudahkan pengelompokkan, tidak sebagai justifikasi tugs mulia seorang guru. Pengelompokkan guru disini tidak berdasarkan sistem kerjanya, tetapi tulisan ini dititikberatkan pada interaksinya dengan anak – anak didiknya.
Seorang guru dapat bertanya kepada diri sendiri, dikatagori mana posisinya berada? Seorang guru akan mengetahui keberadaannya tatkala dia dapat mawas diri dengan jujur pada dirinya sendiri.

Apa itu guru wajib? Guru wajib ditandai dengan;
1.       Keberadaannya akan sangat dirindukan oleh anak-anak didiknya
2.       Sangat bermanfaat dilingkungan pendidikannya
3.       Prilakunya baiknya menjadi tauladan bagi anak-anak didiknya
4.       Ramah kepada anak-anak didiknya, sehingga anak-anak didik  yang ada didekatnya merasa aman  darinya.
5.       Ucapannya senantiasa  terpelihara dari kata-kata yang kasar, penghinaan, atau justifikasi buruk kepada anak didiknya.
6.       Ia tidak suka mencampuri yang bukan urusannya
7.       Sikapnya penyabar tatkala sedang mengajar atau menindakkesalahan anak didiknya
8.       Penuh kasih sayang, lemah lembut terhadap anak didiknya
9.       Selalu berwajah cerah, ramah tamah dihadapan anak didiknya
10.   Jika ia tidak ada, maka kehilangan akan dirasakan oleh anak-anak didiknya

Guru Sunnah, ditunjukkan dengan “keberadaannya memberi manfaat kepada anak-anak didiknya, namun ketidakhadirannya tidak dirasakan suatu kehilangan “, kehadirannya dihadapan anak didiknya dianggap sebagai tugas rutinitas pekerjaannya tidak didasarkan pada motivasi idealisme dalam mendidik.

Guru Mubah, keberadaan atau tidak adanya tidak akan berpengaruh, datang atao bolos sama saja, tidak banyak memberi manfaat tapi keberadaannya tidak menimbulkan madharat.
Guru Makruh, keberadaannya akan memberi amadharat kepada anak didiknya, ketiadaanya tidak akan membawa pengaruh pada perkembangan anak didiknya, anak –anak didiknya merasa bosan atau tidak senang  bila berhadapan dengannya. Contohnya,seorang guru makruh yang baru datang di sekolah atau mau masuk kelas, tadinya suasana sekolah atau kelas sangat tenang, nyaman, dan tentram, anak-anak didik riang gembira bercengkrama sambil bermain. Namun ketika datang sang guru makruh tanpa senyuman, tanpa menyapa terlebih dahulu kepada anak-anak didik, dia langsung saja melarang  tanpa alasa jelas dan tidak melihat psikologi anak. Misalnya bermain di dalam kelas, anak-anak didik langsung saja membubarkan diri dengan rasa kecewa. Inilah seorang guru makruh yang keberadaannya memnimbulkan  masalah karena telah membuat anak-anak didik tidak merasa senang.

Guru Haram, keberadaannya sering jadi musibah kepada anak-anak didik, anak-anak didik sering merasa ketakutan bila berjumpa dengannya, ketidakhadirannya sering tidak diharapkan oleh anak-anak didik, sering membuat mental anak-anak didik menjadi kerdil, mendidik anak-anak didiknya semaunya, tidak didasarkan pada ilmu perkembangan anak. Sering mengancam dan berdusta dihadapan anak-anak didiknya, wajahnya sering tidak ramah bila berjumpa dengan anak-anak didiknya, anak-anak didik sering dijadikan “Robot” diperintah semaunya.

Tugas guru adalah tugas yang sangat mulia, tugas guru dapat mengantar manusia ke tempat yang diharapkan. Tanpa seorang guru, manusia tidak akan dapat menjalani kehidupan di dunia secara normal.

Dede Muharam,S.Ag

الجمعة، 15 فبراير 2013

KISAH TEGANG DAN MENGHARUKAN



HALAL  DAN  HARAM

Pada suatu ketika di jaman Nabi saw, ada seorang pencuri yang hendak bertobat, ia duduk di majelis Nabi saw dimana para sahabat duduk berdesak-desakkan dalam mesjid Nabawi. Suatu ketika dia menangkap perkataan Nabi saw, “Barangsiapa meninggalkan sesuatu yang haram karena Alloh, maka suatu ketika dia akan memperoleh yang haram itu dalam keadaan halal.” Sungguh dia tidak memahami maksudnya, apalagi ketika para sahabat mendiskusikan hal tersebut, sehingga dia merasa tersisihkan.

Akhirnya malampun semakin larut, sang pencuri lapar. Keluarlah dia dari mesjid demi untuk melupakan rasa laparnya.  Di suatu gang tempat dia berjalan, dia mendapati suatu rumah yang pintunya agak terbuka. Dengan insting pencurinya yang tajam, ia dapat melihat dalam gelap, bahwa pintu itu tidak terkunci... dan timbullah peperangan dalam hatinya untuk mencuri atau tidak. “Tidak”, ia merasa tidak boleh mencuri lagi, namun tiba-tiba timbul bisikan aneh, “Jika kamu tidak mencuri, mungkin akan ada pencuri  lainnya yang belum tentu seperti kamu.”  Menjadi berpikirlah dia, maka diputuskan hendak memberitahukan pemiliknya di dalam agar mengunci pintu rumahnya karena sudah lewat tengah malam.

Dia hendak memberi salam, namun timbul kembali suara tadi, “Hai pemuda! Bagaimana kalau ternyata di dalam ada pencuri dan pintu ini terbuka ternyata olehnya, bila engkau mengucap salam... akan kegetlah dia dan bersembunyi, alangkah baiknya jika engkau masuk diam-diam dan memergoki dia dengan menangkap. ‘Ah... benar juga.’ Pikirnya. Maka masuklah ia dengan tanpa suara... ruangan rumah tersebut agak luas, ia melihat sekelilingnya ada satu meja yang penuh makanan – timbul keinginannya untuk mencuri  lagi, namun segera ia sadar – “Tidak”, aku tidak boleh mencuri lagi.”
Masuklah ia dengan hati-hati, “Heh... syukurlah tidak ada pencuri berarti memang sang pemilik yang lalai mengunci pintu. Tiba-tiba terdengar dengkuran halus dari sudut ruang...”  Ah... ternyata ada yang tidur mungkin sang pemilik.”  Ternyata dia adalah seorang perempuan cantik. Tanpa sadar kakinya telah melangkah mendekati  tempat  tidur, perasaannya berkecamuk, macam-macam yang ada dalam hatinya. Kecantikan, tidak lengkapnya busana yang dikenakan perempuan tersebut, sehingga timbul hasrat kotor untuk memperkosanya. Begitu besarnya, sehingga keluar keringat dinginnya. Tak disangka dia sudah duduk mematung disamping tempat tidur... “Tidak”, “Aku tidak boleh melakukan ini, aku ingin bertobat dan tidak mau menambah dosa yang ada, ‘Tidak”!! segera ia memutar badannya untuk pergi. Ia bermaksud untuk mengetuk pintu dan mengucapkan salam dari luar. Ketika akan menuju pintu keluar, ia melewati meja makan tadi, tiba-tiba terdengar bunyi dalam perutnya... ia lapar. Tak lama kemudian timbul suara aneh lagi, “Bagus, hai pemuda yang baik, bagaimana ringankah sekarang perasaannmu setelah melawan hawa nafsu birahimu?” ‘eh-eh,ya.” Hatinya menjawab. Ada perasaan bangga dalam hatinya dapat melawan hawa nafsunya. Suara itu berkata lagi, “Maka sudah sepatutnya engkau memperoleh ganjaran dari sang pemilik atas perbuatan baikmu itu. Ambilah sedikit makanan untuk mengganjal perutnya agar tidak timbul perasaan dan keinginan mencuri lagi.”

Dia merenung sebentar, patutkah ia berbuat begitu. Tiba-tiba ia tersadar serta berucap dalam hatinya, “Engkau dari tadi yang berbicara dan memberi nasehat kepadaku, tapi nasihatmu itu telah menjadikan aku was-was, tidak! Aku tidak akan mendengarkan nasihatmu. Bila engkau engkau Tuhan, tidak akan memberi nasihat seperti ini. Pasti engkau Setan...” (hening). “celaka aku, bila ada orang yang luar dan melihat perbuatanku... aku harus keluar.”
Maka tergesa-gesa ia keluar rumah perempuan tersebut, ketika tiba dihadapan pintu, ia mengetuk pintu dengan keras dan mengucap salam yang terdengar serak menakutkan. Ia merasa khawatir akan suara yang berubah, tanpa memastikan pemiliknya mendengar atau tidak, kembali menuju mesjid dengan perasaan galau namun lega, karena tidak ada orang yang memergokinya.

Sesampai di mesjid, ia melihat Nabi saw sedang berdiri sholat. Di sudut ruang ada orang yang sedang membaca Al-Quran dengan khusu’ sambil meneteskan air mata, di sudut-sudut lain terdapat para sahabat dan ahli shuffah tidur. Ia mengenang kembali akan pengalaman yang baru dia alami, ia bersyukur atas pertolongan Alloh yang menguatkan hatiku. “Tapi... tidak didengar bisikan Alloh di hatiku, apakah Alloh marah kepadaku?” lau ia menghampiri sudut ruang mesjid duduk dekat pintu, dekat orang yang membaca Al-Quran.

Di tengah melamunnya ia mendengar sayup, namun jelas bait-nait ayat suci...” Dan mereka semuanya (di  padang makhsyar) akan berkumpul menghadap kehadirat Alloh, lalu berkatalah orang-orang yang lemah kepada orang-orang yang sombong, ‘Sesungguhnya kami dahulu adalah pengikutmu, maka dapatkah kamu menghindarkan daripada kami azab Alloh (walaupun) sedikit saja? Mereka menjawab ‘seandainya Alloh memberi petunjuk kepada  kami, niscaya kami dapat memberi petunjuk kepadamu. Sama saja bagi kita apakah kita mengeluh ataukah bersabar, sekali-kali kita tidak mempunyai tempat untuk melarikan diri.” (QS. 14:21)

“Dan berkatalah setan tatkala perkara (hisab) setelah diselesaikan, “Sesungguhnya Alloh telah menjanjikan kepadamu janji yang benar  dan akupun telah menjanjikan kepadamu tetapi aku menyalahinya. Sekali-kali  tidakada kekuasaan bagiku terhadap terhadapmu, melainkan sekedar menyeru kamu lalu kamu mematuhi seruanku, oleh sebab itu janganlah kamu mencerca aku, akan tetapi cercalah dirimu sendiri. Aku sekali-kali tidak dapat menolongmu dan kamupun sekali-kali tidak dapat menlongku. Sesungguhnya aku tidak membenarkan perbuatanmu mempersekutukan Alloh. Sesungguhnya orang-orang dzolim mendapat siksaan yang pedih.” (QS.14:22)

Bergetarlah hatinya mendengar perkataan Alloh yang didengarnya, berkatalah hatinya, “Engkau berbicara kepadakukah, ya Alloh,?” terasa lapang hatinya, semakin asyik mendengarkan bacaan suci itu, maka lupalah dia akan rasa laparnya, badannya terasa segar, sukup lama ia mendengarkan bacaan orang itu, hingga tiba-tiba tersentak, karena bacaan itu dihentikan dengan ucapan menjaab salam. Terlihat olehnya seorang pria tua bersama seorang perempuan yang masuk langsung menuju tempat Nabi saw yang sedang duduk berdzikir. “Dan wajah perempuan itu... adalah wajah perempuan tadi...!!!??? dia tersentak kaget setelah jelas melihat wajah perempuan tersebut. Hatinya gelisah, “Apakah tadi ketika aku berda di ruangan itu sang perempuan pura-pura tidur dan melihat wajahnya? Ataukah ada orang yang diam-diam melihatnya, mungkin pria tua yang bersamanya adalah orang yang diam-diam memergokinya ketika ia keluar dan mengetuk pintu rumahnya? Ah... celaka.....” Aku .....takut, aduh bagaimana nih...?

Hatinya berkecamuk, tubuhnya gemetar, tidak mampu ia menggerakkan anggota tubuhnya untuk bersembunyi atau pergi, apalagi tampak olehnya pria yang tadi membaca Al-Quran hendak tidur dan tak lama pun mendengkur. Dan ia melihat mereka telah berbicara dengan Nabi saw.... “celaka” pikirnya panik!!
Hampir celentang jatuh ia ketika terdengar suara Nabi saw, “Hai fulan, kemarilah!” dengan perlahan dan perasaan takut ia mendekat. Ia berusaha menundukkan wajahnya.
Ia mendengar sang perempuan masih berbicara kepada Nabi saw, “... benar ya Rosululloh, saya sangat takut pada saat itu saya bermimpi rumah saya kemasukan orang yang hendak mencuri, dia mendekati saya dan hendak memperkosa saya, ketika saya berontak... ternyata itu hanya mimpi. Namun ketika saya melihat sekelilingnya ternyata pintu rumah saya terbuka sebagimana mimpi saya dan ada suara menyeramkan yang membuat saya takut. Maka segera saya menuju rumah paman untuk meminta dicarikan suami buat saya, agar kejadian yang dimimpi saya tidak terjadi bila ada suami yang melindungi. Sehingga beliau mengajak saya menemui engkau di sini agar memilihkan calon suami untuk saya.”

Nabi saw memandang kepada pemuda bekas pencuri, lalu berkata.”Hai, Fulan, karena tidak ada pria yang bangun kecuali engkau saat ini, maka aku tawarkan padamu, maukah engakau menjadi suaminya”. Terkejut ia mendengar itu, cepat-cepat ia mengangguk.
Dan setelah sholat shubuh, Nabi  saw  mengumumkan hal ini dan meminta para sahabat mengumpulkan dana untuk mengadakan pernikahan dan pembayaran mas kawin si pemuda ini.  Setelah pernikahannya, tahulah ia akan perkataan Nabi saw yang lalu, “Barangsiapa yang meninggalkan sesuatu yang haram karena Alloh, maka suatu ketika dia akan memperoleh yang haram itu dalam keadaaan halal.”

Sekarang si pemuda itu dapat memakan makanan bersama perempuan itu dan berumah tangga dengan halal.

(lembaran da’wah Ummul Qura’)